Ketika membicarakan pembangunan data center, perhatian biasanya tertuju pada kapasitas listrik, teknologi server, sistem pendingin, dan lokasi. Namun, di balik semuanya ada satu elemen penting: logistik.

Terlebih, perkembangan AI membuat pembangunan data center semakin kompleks, sebab infrastruktur yang dibutuhkan pun ikut berubah. Kompleksitas ini menciptakan tantangan logistik baru. 

Baca juga: Apa itu data center?

5 Tantangan Utama Logistik Data Center AI

1. Menjaga Ketepatan Waktu di Tengah Volume Pengiriman yang Besar

Pembangunan data center AI berskala besar dapat melibatkan ratusan pengiriman dalam satu hari. Masalahnya, komponen tidak bisa dikirim sembarangan.

Jika peralatan berukuran besar datang terlalu cepat, kapasitas penyimpanan di lokasi proyek dapat terbebani dan menimbulkan risiko keselamatan. Sebaliknya, jika komponen datang terlambat atau tidak sesuai urutan pembangunan, proses instalasi dapat tertunda.

Contoh sederhana: keterlambatan sistem pendingin dapat menunda instalasi server dan akhirnya mengganggu proses commissioning secara keseluruhan. Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar “deliver on time”, tetapi “deliver according to construction sequence.”

Logistik harus memahami:

Karena itu, dibutuhkan koordinasi yang erat antara construction schedule dan delivery schedule.

Visibilitas pengiriman secara near-real-time menjadi penting agar tim proyek dapat mengetahui posisi barang, mengantisipasi potensi keterlambatan, dan melakukan penyesuaian sebelum masalah berkembang menjadi downtime.

2. Menangani Barang Bernilai Tinggi dan Sensitif

GPU, server, semikonduktor, dan perangkat teknologi lainnya memiliki nilai yang sangat tinggi sekaligus sensitif terhadap guncangan dan getaran. Kerusakan kecil selama perjalanan bahkan dapat menghasilkan masalah ketika perangkat sudah dipasang dan dioperasikan. Sebagai informasi, sebuah server rack 42U yang telah terisi penuh dapat memiliki nilai sekitar Rp865 juta hingga Rp4,3 miliar

Karena itu, pengiriman komponen data center membutuhkan lebih dari sekadar transportasi. Dibutuhkan specialized handling, secure transportation, monitoring, dan pengawasan pada setiap titik perjalanan.

DHL, misalnya, menyoroti penggunaan peralatan loading yang diperkuat, lift berkapasitas tinggi, serta fasilitas dengan standar keamanan tertentu untuk menangani pengiriman server rack. 

3. Kompleksitas Pengiriman Lintas Negara

Data center AI bergantung pada global supply chain.

GPU, sistem pendingin, perangkat jaringan, dan berbagai komponen konstruksi dapat berasal dari negara yang berbeda. Kondisi ini membuat proyek data center harus berhadapan dengan berbagai persyaratan customs clearance, dokumentasi, klasifikasi barang, regulasi, dan perpajakan.

Kesalahan kecil dalam dokumen dapat menyebabkan barang tertahan di customs.

Dan dalam proyek dengan jadwal yang sangat ketat, keterlambatan customs bukan sekadar persoalan administrasi. Dampaknya dapat merembet ke jadwal instalasi hingga commissioning data center.

4. Logistik Tidak Berhenti Setelah Data Center Selesai Dibangun

Salah satu hal yang penting adalah memahami bahwa kebutuhan logistik data center tidak berakhir ketika konstruksi selesai. Justru ketika data center mulai beroperasi, kebutuhan logistik terus berjalan.

Pertumbuhan AI mendorong kebutuhan terhadap kapasitas komputasi yang semakin besar. Server, GPU, perangkat jaringan, dan sistem pendingin perlu diperbarui atau ditingkatkan secara berkala.

Artinya, data center dapat berada dalam kondisi continuous upgrade, replacement, dan optimization.

FedEx memperkirakan kapasitas data center di kawasan APAC akan hampir berlipat ganda hingga 2030. Dengan pertumbuhan tersebut, logistik akan semakin bergeser dari fungsi proyek satu kali menjadi bagian dari operasi jangka panjang data center.

5. Power dan Lokasi Data Center Mengubah Tantangan Logistik

Ada perkembangan menarik lain dalam pembangunan data center: ketersediaan power semakin menentukan lokasi proyek.

Data Center Frontier mencatat bahwa keterbatasan kapasitas jaringan listrik mendorong developer mempertimbangkan lokasi-lokasi baru yang sebelumnya bukan merupakan pusat utama pembangunan data center. Akibatnya, proyek dapat bergerak ke lokasi yang lebih jauh dari established logistics corridors.

Persoalannya, pembangunan di lokasi baru bukan hanya membutuhkan sumber listrik. Di antara sumber power dan data center terdapat berbagai equipment seperti:

Komponen tersebut sering kali berukuran besar, memiliki lead time panjang, dan harus didatangkan dari manufacturer yang lokasinya bisa berjarak ratusan hingga ribuan kilometer dari proyek. Ini menciptakan sebuah hubungan yang semakin kuat:

Power availability → site selection → supply chain complexity → logistics requirements.

Jadi, keputusan memilih lokasi data center secara tidak langsung juga merupakan keputusan mengenai bagaimana supply chain akan dibangun.

Baca juga: Apa itu logistik?

Dari Project Logistics Menjadi Integrated Logistics

Kompleksitas data center di era AI membuat pendekatan project logistics saja tidak lagi cukup. Logistik tidak hanya dituntut memastikan equipment tiba di lokasi proyek, tetapi juga harus terhubung dengan procurement, construction schedule, customs, warehousing, hingga kebutuhan operasional setelah data center mulai berjalan.

Karena itu, dibutuhkan pendekatan integrated logistics yang menghubungkan seluruh alur tersebut dalam satu ekosistem. Dengan integrasi ini, logistics partner dapat memahami kapan equipment dibutuhkan, di mana harus ditempatkan, bagaimana proses pengirimannya, hingga potensi risiko yang dapat mengganggu timeline proyek.

Pendekatan ini juga memungkinkan pengiriman menjadi lebih time-critical dan construction-sequenced. Artinya, setiap shipment tidak hanya direncanakan berdasarkan waktu tempuh, tetapi berdasarkan kapan site siap menerima dan menggunakan equipment tersebut.

Untuk mewujudkannya, beberapa kapabilitas menjadi penting:

Dengan pendekatan tersebut, logistik tidak lagi berdiri sebagai fungsi yang bekerja setelah barang dibeli, tetapi menjadi bagian dari perencanaan dan eksekusi proyek sejak awal hingga operasional.

Dari sekadar memastikan barang sampai, menjadi memastikan seluruh supply chain bergerak selaras dengan kebutuhan proyek.

Sumber Referensi

Andree Susanto

President Commissioner

Indonesian citizen, 37 years old.

Andree earned a Bachelor of Science in Chemical Engineering from the University of California, Berkeley, USA, in 2010 and then pursued Executive Education at Harvard Business School in 2022.

Current Role:

  • 2025 – present: President Commissioner of the Company
  • 2022 – present: Advisor at Rekosistem Pte Ltd
  • 2020 – present: Advisor at Commodity Dragon Pte Ltd
  • 2019 – present: Investor and President Commissioner at Otoklix International Pte Ltd
  • 2017 – present: Group Founder and CEO at Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd

Willson Cuaca

Commissioner

Indonesian citizen, 47 years old.

Willson earned a Bachelor’s degree in Informatics Engineering from Bina Nusantara University, Indonesia, in 2000.

Current Role:

  • 2025 – Present: Commissioner of the Company
  • 2024 – Present: President Commissioner of PT Fore Kopi Indonesia Tbk.
  • 2016 – Present: Founder, Director, and Managing Partner of East Ventures Advisory Pte. Ltd.
  • 2009 – Present: Founder and Director of East Ventures Pte. Ltd.

Drs. M. Jusuf Wibisana, SE.Ak., M. Ec.

Independent Commissioner

Indonesian citizen, 66 years old.

Earned his Doctorate/Bachelor of Economics from Gajah Mada University, Yogyakarta in 1983 and his Master of Economics in Accounting and Finance from Macquarie University, Australia, in 1990.

Current Role:

  • 2025 – Present: Independent Commissioner at the Company
  • 2003 – 2025: Partner at PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia
  • 2018 – 2022: Member of the Audit Board of the Financial Services Authority

Edwin Wibowo

President Director

Indonesian citizen, 36 years old.

Earned a Bachelor of Mechanical Engineering degree from the University of California, Berkeley, USA, in 2011 and a Master of Mechanical Engineering degree from the University of California, Berkeley, USA, in 2012.

Current Role:

  • 2025 – Present: President Director of the Company
  • 2017 – Present: Group Co-founder, CFO of Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd.

Thomas Wenas

Director

Indonesian citizen, 43 years old.

Earned a Bachelor of Commerce, Management, and Marketing degree from the University of New South Wales, Australia, in 2004.

Current Role:

  • 2025 – Present: Director of the Company

Hendri Swabudi Setiawan

Director

Indonesian citizen, 56 years old.

Earned a Bachelor of Economics degree, majoring in Accounting, from Parahyangan Catholic University, Indonesia in 1992.

Current Role:

  • 2021 – present: Director at the Company

Hendri Swabudi Setiawan

Direktur

Warga Negara Indonesia, usia 56 tahun.

Beliau memperoleh gelar Sarjana Ekonomi, jurusan Akuntansi dari Universitas Katolik Parahyangan, Indonesia pada tahun 1992.

 Jabatan Terkini:

  • 2021 – saat ini : Direktur di Perseroan

Thomas Wenas

Direktur

Warga Negara Indonesia, usia 43 tahun.

Beliau memperoleh gelar Bachelor of Commerce, Management and Marketing dari University of New South Wales, Australia pada tahun 2004.

Jabatan Terkini:

  • 2025 – saat ini : Direktur di Perseroan 

Edwin Wibowo

Direktur Utama

Warga Negara Indonesia, usia 36 tahun.

Beliau memperoleh gelar Bachelor of Mechanical Engineering dari University of California Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 2011 dan meraih gelar Master of Mechanical Engineering dari University of California Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 2012.

Jabatan Terkini:

  • 2025 – saat ini : Direktur Utama di Perseroan
  • 2017 – saat ini : Co-founder grup, CFO di Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd.

Drs. M. Jusuf Wibisana, SE.Ak., M. Ec.

Komisaris Independen

 Warga Negara Indonesia, usia 66 tahun.

Beliau memperoleh gelar Doktorandus/Sarjana Ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada tahun 1983 dan memperoleh gelar Master of Economics, in Accounting and Finance dari Macquarie University, Australia pada tahun 1990.

Jabatan Terkini:

  • 2025 – saat ini : Komisaris Independen di Perseroan
  • 2003 – 2025 : Partner di PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia
  • 2018 – 2022 : Anggota Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan

Willson Cuaca

Komisaris

Warga Negara Indonesia, usia 47 tahun.

Beliau memperoleh gelar Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Bina Nusantara, Indonesia pada tahun 2000.

Jabatan Terkini:

  • 2025 – saat ini : Komisaris di Perseroan
  • 2024 – saat ini : Komisaris Utama di PT Fore Kopi Indonesia Tbk.
  • 2016 – saat ini : Founder, Direktur dan Managing Partner di East Ventures Advisory Pte. Ltd.
  • 2009 – saat ini : Founder dan Direktur di East Ventures Pte. Ltd

Andree Susanto

Komisaris Utama

Warga Negara Indonesia, usia 37 tahun.

Beliau memperoleh gelar Bachelor of Science in Chemical Engineering dari University of California Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 2010 dan kemudian menempuh pendidikan Executive Education di Harvard Business School pada tahun 2022.

Jabatan Terkini:

  • 2025 – sekarang : Komisaris Utama di Perseroan
  • 2022 – sekarang: Advisor di Rekosistem Pte Ltd
  • 2020 – sekarang: Advisor di Commodity Dragon Pte Ltd
  • 2019 – sekarang: Investor and Komisaris Utama di Otoklix International Pte Ltd
  • 2017 – sekarang : Group Founder and CEO di Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd